Judul: A Thing Called Us
Penulis: Andry Setiawan
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal: 290 halaman
Shun, Kotoha, dan Shiji. Ketiganya teman sepermainan sejak kecil. Ketiganya bahkan meninggalkan desa bersama dan menetap di Tokyo. Ketiganya sudah seperti keluarga yang dekat dan erat.
Sampai suatu hari Shinji menghilang. Hanya menyisaka Kotoha dan perasaan cinta gadis itu pada Shiji. Juga Shun yang selama ini menyimpan rasa pada Kotoha.
Lima tahun sudah Shinji tidak ada di antara Shun dan Kotoha. Namun, kehidupan keduanya masih seperti Shinji akan kembali. Kotoha menanti Shinji dan Shun menemani Kotoha menanti Shinji.
Inilah kisah tiga sahabat yang rumit dan menyesakkan.
Friendzone
Sedari blurb, pembaca akan langsung mendapatkan fakta bahwa
A Thing Called Us mengangkat tema
friendzone. Kisah persahabatan memang umumnya diramu menjadi kisah cinta. Dan novel ini langsung menunjukkan dari awal akan membahas perasaan cinta di antara sahabat.
Begitu mulai membaca, pembaca akan langsung diajak berkenalan dengan Shun. Dia adalah tokoh utama lelaki dalam novel ini. Dan sejak awal Shun akan membuat pembaca bersimpati, bersedih, merasa sangat kasihan padanya. Juga merasa betapa bodoh seorang Shun.
"Kau tahu kan kalau demi dirimu, aku rela melakukan apa saja?" (h. 6)
Setelah Shun, pembaca lalu berkenalan dengan Kotoha. Sang gadis di antara Shun dan Shinji. Saya pribadi ... langsung tidak suka dengan Kotoha. Gadis itu tahu bagaimana perasaan Shun padanya tapi dia tidak menerima atau menolaknya. Kotoha tahu dia bersikap jahat pada Shun tapi dia tetap seperti itu sejak Shinji menghilang.
Dia tidak ingin mengatakan tidak, tidak ingin melarang Shun mencintai dirinya, karena dia... karena dia perlu merasa dicintai, diterima, dan diperhatikan. (h. 37)
Begitulah. Sejak awal saya mengasihani Shun yang bodoh dan memendam sebal pada Kotoha yang begitu tega. Namun, semakin banyak membaca, saya semakin tahu bahwa hubungan mereka tidak sesederhana itu. Persahabatan Shun, Kotoha, dan Shinji tidak sesederhana itu. Perasaan, kehidupan, masa lalu, keluarga ketiga sahabat ini jauh lebih rumit dari yang saya kira di awal. Alasan Shun tidak melepas Kotoha selama ini bukan hanya karena perasaannya semata. Shun punya keterikatan dengan Shinji, sedalam keterikatan Kotoha dengan Shinji.
Shun dan Kotoha, keduanya masing-masing terus mengikat diri mereka. Terus hidup di masa lalu. Terus menyiksa diri dalam lingkaran yang sama selama bertahun-tahun.
Friendzone dalam
A Thing Called Us lebih rumit dari yang saya perkirakan.
Karakter-Karakter Lain
Selain keduanya dan Shinji, sebenarnya novel ini punya karakter heroine lain. Aki namanya. Aki adalah gadis yang sederhana, simpel, dan supel. Ketika membaca novel ini, porsi cerita Aki semacam sebanyak Kotoha juga.
Gadis ini muncul dalam hidup Shun, sebagai rekan kerja. Lalu juga muncul dalam hidup Kotoha. Aki masuk dan membuat keseimbangan yang dijaga Shun dan Kotoha selama lima tahun sejak kepergian Shinji goyah.
Dia meledak-ledak dan begitu baik hati dan berusaha menolong Shun yang selalu terlihat dirundung duka. Dia membawa aura ceria dalam novel yang kelewat menyesakkan ini. Aki adalah karakter favorit saya. Meski dia terlalu suka ikut campur.
Satu lagi karakter cukup penting adalah Hayato. Hayato adalah atasan Aki. Meski awalnya hanya tampak sekali lalu, dia pada akhirnya membuat A Thing Called Us semakin melaju.
Begitulah. Empat nama ini adalah nama-nama penting yang menjalin kisah
A Thing Called Us.
Tentang Pilihan dan Kebahagiaan
Saya memang bilang kisah persahabatan Shun, Kotoha, dan Shinji jelas lebih rumit dari yang terlihat. Namun, sejujurnya, bisa jadi kisah mereka dan alasan-alasan yang membuat segala konflik tercipta sangat-sangat sederhana. Kondisi, masa lalu, dan latar kehidupan ketiganyalah yang membuat segalanya rumit. Mereka punya cerita yang kompleks di masa lalu. Latar yang membuat karakter mereka semakin hidup. Lagi pula, bukankah memang manusia yang memperumit segalanya?
Shun dan Kotoha hanya terus terjebak. Dan alasan mereka sangat mudah dipahami, mereka tidak ingin melupakan Shinji oleh sebab itu mereka masih menanti. Mereka masih terikat pada kenangan.
"Masalah hati tidak akan selesai meskipun kalian mengundang simpati orang lain, dan bersikap menyedihkan." (h. 134)
Makanya separuh awal novel ini sangat menyedihkan dan menyesakkan. Ditambah dengan gaya menulisnya yang lambat, novel ini terasa semakin menyesakkan.
Novel ini mengajarkan bahwa pilihan terkadang sangat berat, tapi harus dilakukan demi diri kita sendiri. Demi kebahagiaan diri kita.
"Meninggalkan orang yang menjadi racun dalam hidupmu bukanlah tindakan kejam." (h. 227)
Cita Rasa Jepang
Novel ini ditulis oleh penulis lokal, tetapi bukunya sangat Jepang. Bukan, bukan sekadar dari nama karakternya, tapi juga dari hal-hal lain.
A Thing Called Us punya
pace yang lambat, sesuatu yang menjadi ciri khas novel Jepang. Buku ini sendiri ditulis dari sudut orang ketiga. Meski demikian, sudut ini semacam berganti-ganti antara semua karakter. Tentunya masih POV orang ketiga tapi ada yang berbeda ketika orang ketiganya adalah Aki atau Shun atau Kotoha atau yang lain. Ada nama-nama panggilan yang berbeda.
Beberapa percakapan juga seperti yang ada pada novel Jepang, tanpa keterangan panjang lebar soal siapa yang berbicara. Dan gaya bercakapnya juga sangat Jepang.
Penulis tidak membutuhkan nama-nama
fancy, merek Jepang, bahasa Jepang, dkk yang bertabur banyak sepanjang buku untuk membangun nuansa Jepang di novel ini.
Saya salut sekali! Habis gaya bercerita novel ini beda dengan novel penulis yang sebelumnya pernah saya baca,
Sayap-Sayap Kecil.
Nah, hal ini memang sangat saya kagumi, tapi sekaligus juga membuat saya meringis. Gaya penulisan POV orang ketiga yang suka berubah-ubah (tapi tidak ada suara yang cukup membedakan karena bukan suara 'aku' karakter) membuat saya lambat mengenal karakter-karakternya. Lebih lagi karakternya ternyata tidak sedikit.
Btw novel Jepang juga sering bikin gini. Jadi sebenarnya ya tetap salut sama penulis sih karena nggak terasa novel lokal berlatar tempelan Jepang.
Meski demikian, saya merasa perkembangan karakter-karakternya terlalu ... cepat? Apalagi Kotoha. Saya kurang merasakan gejolak dalam jiwanya ketika dia mengambil keputusan di awal. Titik di mana karakter-karakter dalam novel ini berubah memang terasa, khususnya Shun dan Aki. Hanya saja untuk Kotoha terkesan terlalu buru-buru dan mendadak. Entahlah, saya hanya merasa kurang sesuatu sebelum hal 'itu'. Yah meski akhirnya karakter Kotoha tetap masih berkembang sampai akhir sih.
Terakhir
Secara keseluruhan, saya sangat suka dengan novel ini. Memuaskan!
Kisahnya tidak sesederhana novel
friendzone pada umumnya.
Romance-nya pun tidak terkesan dipaksakan, mengalir dengan baik. Selain itu, setiap karakter punya latar yang baik dan membuat perkembangan masing-masing karakter memuaskan.
Dan utamanya, saya suka pesan yang dibawa novel ini. Kitalah yang menentukan kebahagiaan kita. Juga hal dalam kutipan ini.
"Ada segelintir orang yang tidak bisa ditolong karena mereka tidak mau ditolong." (h. 241)
Sangat direkomendasikan bagi kamu yang suka kisah persahabatan tapi mengharapkan akhir yang membahagiakan dan memuaskan. Juga bagi kamu yang masih terjebak dengan masa lalu. Siapa tahu kisah Shun dan Kotoha bisa membantumu untuk melangkah.
Selamat membaca!
((Btw lagi-lagi reviewnya panjang ya huhu. Semoga kamu nggak bosan.))
GIVEAWAY
Nah seperti yang tertera di judul, saya bakal membagikan SATU eks
A Thing Called Us untuk satu orang yang beruntung.
[UPDATE]
Selamat kepada Rahma (IG @ra_ra_rakhma_ma_ma) sebagai pemenang!
Caranya mudah banget!
Cukup tinggalkan
komentar berupa nama dan domisili di postingan ini.
Untuk mendapat kesempatan lebih besar menang, kamu bisa memenuhi syarat-syarat ini juga. Ingat, syarat ini TIDAK WAJIB dilakukan ya.
- (+1) Follow twitter atau instagram @penerbitharu
- (+1) Follow twitter penulis @konstantin0609 atau instagram penulis @konstantin999
- (+1) Follow twitter saya @missfiore_ dan/atau instagram saya di @missfioree
- (+2) Tinggalkan komentar tentang review ini di kolom komentar bersama data yang diminta. NOTE: Review ini NO SPOILER. Jadi nggak perlu khawatir buat bacanya. 😅
- (+2) Share info giveaway ini di twitter atau instagram dengan tagar #ATCUGiveaway. TIDAK PERLU tag/mention siapapun.
Bila kamu mengikuti akun penerbit/penulis/saya entah via twitter atau instagram, tolong cantumkan username juga di kolom komentar ya. Oya tolong akunnya jangan digembok selama periode ya. Butuh untuk pengecekan, ehehe.
Giveaway berlangsung dari tanggal 14 sampai dengan 20 Oktober. Pemenang akan diumumkan maksimal tiga hari setelah ditutup.
Terakhir, jangan lupa berdoa! :)