missfioree
Powered by Blogger.
  • Home
  • Kerja Sama
  • Buku
  • Tips
Halo, semuanya!

Di rubrik Tips Bookstagram kali ini, saya mau berbagi tips soal foto flatlay nih. Sebenarnya bukan tips ini yang ingin saya keluarkan lebih dulu, ada tips satu lagi. Sayangnya, karena satu dan lain hal, tips itu masih terus jadi draf. Tapi nggak masalah ya, hehe.

Baca juga: "Aplikasi (Wajib) Edit Foto Pakai HP"

Nah, sebelum mulai, kita kenalan dulu yuk sama flatlay.

Apa itu Flatlay?

Intinya, flatlay itu salah satu teknik fotografi yang diambil dari atas dan menghasilkan foto tampak atas dari objek. Teknik ini juga dikenal dengan nama knolling photography. Untuk melihat contohnya, kamu bisa langsung cek tagar #flatlay di Instagram atau googling langsung soal flatlay.

Salah satu alasan kenapa saya senang sekali foto flatlay adalah foto flatlay itu nyaris selalu menghasilkan foto yang bagus. Enggak juga sih, haha. Flatlay ini aslinya gampang-gampang susah. Saya memulai flatlay sejak mencintai dunia bookstagram, bisa dibilang sejak akhir tahun 2016 dan sampai sekarang pun saya kadang masih tidak puas dengan hasil flatlay saya.

Namun, tentunya saya punya sedikit tips mudah buatmu yang mau foto-foto flatlay. Semoga bermanfaat, ya!

Komposisi

Bisa dibilang komposisi adalah hal paling penting dalam menghasilkan foto flaylay yang bagus. Kamu tidak bisa menumpahkan segala hal di alas fotomu buat menghasilkan flatlay yang bagus (well, nyatanya messy photography pun direncanakan). Ada hal-hal yang harus diperhatikan, ada komposisi yang patut diperhitungkan.

Sejujurnya menuliskan soal ini tuh tidak mudah. Pasalnya, untuk jago foto flatlay, kamu pun harus berlatih. Semakin sering mencoba foto flatlay, kamu akan semakin jago. Ya, sama seperti keterampilan lainnya: practice makes perfect.

Nah, sambil terus berlatih foto flatlay, saya sudah merangkum beberapa hal penting soal komposisi agar kamu pun bisa membuat foto flatlay yang bagus. :)

Rule of Thirds

Tepat. Rule of Thirds pun termasuk comfort zone di flatlay. Ini komposisi paling mudah dan nyaris tidak akan menghasilkan foto flatlay yang gagal. Lihatlah gambar di bawah ini. Nah, menurut rule of third ini, point of interest alias objek utama fotomu harus berada di pertemuan garis (garis yang berwarna merah).
Gimana supaya objek fotomu berada tepat di sana? Jika kamu menggunakan kamera ponsel, nyalakanlah fitur grid di kameramu. Nanti akan muncul garis-garis seperti di atas yang akan memandumu mendapatkan komposisi rule of third yang pas.

Table Situation

Ini juga merupakan salah satu komposisi foto yang mudah dilakukan. Foto saja di atas meja dan bagaimana kondisi mejamu. :D

Supaya komposisinya bagus, paling mudahnya adalah tiru foto flatlay di atas meja milik orang lain (jangan lupa berikan kredit ya). Semisal kamu tidak ingin meniru, maka tatalah barang-barangmu di atas meja dengan natural. Maksudnya natural gimana? Ya bagaimana kondisi sebuah "meja" seharusnya. Apa saja sih yang biasanya ada di atas meja? Kayak nggak mungkinkan kalo foto buku di atas meja terus ada sepau atau sandal?

Foto contoh table situation.
Kedua buku berjudul sama adalah POI dan menggunakan teknik rule of third. Foto dilengkapi dengan properti kertas, bunga artifisial, puplen, dan bunga kertas. 

Hand(s) in Frame

Tahukah kamu kalau menambahkan tangan dalam foto flatlay akan membuat fotomu terasa lebih hidup? Seriusan. Coba saja foto flatlay dengan tangan dan tanpa tangan, ada yang berbeda. Tangan kita di dalam foto ini membuat foto terasa ada 'aktivitas' yang terjadi di sana.

Coba minta temanmu (tangannya) berpose. Bisa semacam memegang ujung buku, bisa memegang pulpen atau objek kecil lain dalam foto, bisa yang lain-lain. Kreatiflah meletakkan tangan!

Foto contoh hand in frame.
Saya memotret foto ini sendiri dengan tangan kanan sementara tangan kiri diletakkan di ujung buku seolah baru saja membalik halaman (padahal saya pakai untuk menekan buku agar terbuka haha).

Well Organized

Komposisi yang satu ini cocok banget kamu terapkan semisal nggak punya ide buat foto-foto. Ambil seluruh barang yang ingin kamu foto, lalu tatalah dengan rapi. Yup, dengan rapi. Jejerin satu-satu, letakkan satu-satu, susun satu-satu. Semua dengan rapi.

Jika kamu masih bingung untuk membuat komposisi ini, gunakanlah ukuran foto sebagai panduan. Apakah kamu ingin fotomu persegi? Berukuran 4:3? Atau ukuran lainnya? Nah, penuhilah frame fotomu dengan objek yang tertata rapi. Bisa juga kamu gunakan kameramu untuk melihat apakah seluruh objek yang kamu tata itu sudah rapi dan berhasil membentuk ukuran frame yang kamu inginkan atau tidak.

Foto contoh well organized.
Saya menata pembatas buku hijau biru saja dengan rapi dan hati-hati untuk membentuk persegi sempurna. Di antara sela-sela yang tidak mungkin saya masukkan pembatas buku, saya tambahkan objek kecil lain seperti lilin, stiker, atau gulungan benang.

Negative Space

Kamu nggak punya properti foto yang banyak? Jangan khawatir, kamu bisa memanfaatkan ruang kosong alias negative space buat menghasilkan foto flatlay. Foto-foto minimalis pun biasanya hanya berisi satu-dua objek dan selebihkan adalah ruangan kosong. Justru foto ini terlihat estetik karena banyak ruang kosongnya. :D

Meski terlihat mudah, sebenarnya memanfaatkan ruang kosong ini pun butuh 'latihan'. Kamu harus mencoba berulang kali agar komposisi fotomu pas. Objek tetap terlihat dan ruangan kosong berhasil membuat objekmu hidup.

Foto contoh dengan negative space.
Foto ini kurang banyak memanfaatkan ruangan kosong, tapi kurang lebih beginilah hasilnya. Foto akan terasa minimalis dan tentunya tidak butuh banyak properti. POI tetap terlihat (kaleng lilin) dan buku terbuka menjadi penunjang selain daripada ruangan kosong.

Baca juga: "Foto Cantik Pakai Prop Barang Sehari-hari"

Penutup

Begitulah sedikit tips komposisi foto flatlay yang bisa saya berikan. Sekali lagi saya perlu menekankan bahwa untuk bisa jago flatlay, kamu harus sering-sering latihan. Semakin sering menata foto untuk flatlay, kamu akan memiliki sense komposisi flatlay. Semua ini tentunya butuh proses. :)

Pun jikalau kamu menggunakan metode ATM (amati, tiru, modifikasi) dalam foto flatlay, kamu tetap akan butuh waktu supaya hasil fotomu memuaskan. Jangan menyerah dan teruslah mencoba!

Semoga tips ini bermanfaat buatmu!
Tips Foto Pakai Barang Sehari-hari
Halo! Lama sekali tidak menyapa di sini. :")

Setelah sekian lama, saya (insya Allah) bakal kembali aktif mengisi blog yang sudah terlupakan ini. Semoga di 2019 saya bisa semakin rajin ngeblog.

Nah, kembali ke topik. Di postingan kali ini saya bakal berbagi sedikit tips Bookstagram. Kali ini saya bakal membahas soal prop alias properti foto.

Sebagai penganut foto-bukan-yang-minimalis, keberadaan prop itu wajib hukumnya. Namun, buat bikin foto yang instagrammable, prop lucu-lucu itu mahal harganya.

Lalu, gimana kalo ternyata nggak butuh prop mahal buat bikin foto yang bagus? Gimana kalo ternyata ada banyak barang di sekitar kita yang bisa dimanfaatkan buat menambah keindahan foto kita?

Nggak percaya? Langsung aja deh lihat foto yang saya sertakan di bawah ini!

Baca juga:  [Tips] Bookstagram: Aplikasi (Wajib) Edit Foto pakai HP

Tips Foto Pakai Barang Sehari-hari

1. Buku
Buku-buku lain bisa banget kamu pakai buat menjadi prop foto bookstagram (atau foto apa aja yang lain) lho. Nggak perlu buku yang isinya cakep, buku dengan kover minimalis atau warna kover senada dengan tema fotomu, bisa banget dimanfaatkan.

2. Kancing (atau manik-manik)
Saya menemukan kancing ini dengan harga murah beberapa tahun silam, dan sampai sekarang belum juga dipakai. Yasudah, saya pakai saja deh jadi prop foto. Kancing ini pun nggak terbatas pada kancing yang punya bentuk lucu, kancing warna-warni pun bisa kamu pakai. Selain kancing, kalau kamu punya gelang manik-manik yang udah rusak juga bisa dimanfaatkan. Sebarkan saja di sekitar fotomu buat menambah nilai estetik foto.

3. Pulpen (dan alat tulis lain)
Punya pulpen yang tabung pulpennya warna-warni? Pakai aja deh jadi properti fotomu. Kalau konsep fotomu rada-rada vintage, bisa juga kamu pakai pensil kayu yang dijual murah di toko alat tulis.

4. Amplop coklat
Saya bukan satu-satunya orang yang pakai amplop bekas (bungkusan paket buku yang dikirim haha) buat jadi prop foto. Ada Afy @splendidwords yang memanfaatkan amplop coklat buat bikin fotonya jadi super indah. Oya, kalau konsep fotomu penuh warna, bisa juga kamu menggunakan amplop aneka warna lho, kayak amplop angpao atau lebaran atau undangan. Pintar-pintar saja kamu menata amplop-amplop ini dalam fotomu.

5. Perahu Kertas
Nah, yang ini bisa banget kamu bikin sendiri. Kamu hanya butuh satu hal: kertas. Saya sendiri membuatnya dari kertas buku bekas, yang kebetulan tidak lagi saya pakai. Kamu bisa juga pakia kertas origami, kertas bekas cetak skripsi yang ditolak tugas, atau kertas apa saja.

6. Notebook (dari undangan nikah)
Punya notebook-notebook lucu bertebaran? Pakai jadi prop! Nggak pernah beli notebook lucu? Coba deh intip sovenir nikahan atau justru undangan nikah yang keluarga (atau kamu) terima. Apa-apa yang berhubungan dengan nikah ini biasanya punya desain yang super cantik, jadi bisa kamu manfaatkan. Notebook pink bunga-bunga yang saya pakai di foto ini sendiri merupakan undangan nikah yang saya terima, lho. Tinggal pintar-pintar saja menyembunyikan bagian yang berupa undangan biar jadi prop foto yang cantik.

7. Bookmark
Sebagai pembaca buku, keberadaan bookmark ini udah kayak batagor dengan saus kacang atau gorengan dengan cabe, soulmate. Nah, pakailah pembatas-pembatas buku yang kamu punya ini sebagai prop. Nggak harus pembatas buku cantik yang memang dijual lho. Di foto ini saja saya pakai pembatas buku hadiah dari toko buku online.

8. Bunga
Nah, ini semacam prop yang paliiiiiiing sering muncul. Di foto ini saya pakai bunga plastik yang saya simpan dalam cangkir sebagai prop. Kamu bisa saja pakai bunga plastik yang dipajang ibumu di vas ruang tamu. Atau bisa juga pakai bunga asli yang banyak kamu temukan di pasar atau toko bunga. Zaman sekarang juga ada banyak bunga kering (entah yang kamu bikin kering sendiri atau beli di toko) sebagai prop foto.

9. Totebag (atau pouch atau tas)
Coba tengok lemarimu, apakah ada totebag atau tas yang bisa kamu manfaatkan jadi prop. Ada banyak foto instagram yang menjadikan tas sebagai salah satu prop-nya lho. Di foto ini sih saya pakai totebag dengan tulisan sederhana. Selain tas, kamu juga bisa pakai pouch buat prop. Intinya barang-barang yang sering kali kamu pakai buat jalan keluar sama temanmu bisa dipakai buat memperindah fotomu.

10. Sweater
Sering lihat kan foto bookstagram luar yang pakai sweater buat prop? Kamu juga bisa lho! Tunggu, kamu nggak perlu beli sweater kayak mereka (yang tebal dan pasti mahal meski emang cakep banget sih saya juga pingin) untuk prop fotomu. Coba deh intip lemari bajumu, ada nggak sweater atau baju sweater yang bisa jadi sudah kekecilan (atau masih sering kamu pakai). Sebelum dipakai foto, lipat dulu bagian tangannya supaya lebih estetik dan kelihatan bervolum. Terus tata deh di alas fotomu dan TADA! Kamu pun punya prop sweater cakep.

Nah, kira-kira inilah 10 barang sehari-hari yang sering saya manfaatkan buat jadi prop foto. Kalau kamu, biasanya memanfaatkan apa sih?

Baca juga: [Tips] Bookstagram: Akun Foto Buku yang Instragrammable

Setelah sekian lama, akhirnya rubrik ini muncul lagi, yey!

Sejujurnya, outline (eaa berasa apaan aja) buat artikel yang satu ini udah ada dari lama. Sayangnya, kesempatan untuk menuliskannya tuh belum ada juga sampai sekarang. Selain itu, kesempatan foto-fotonya juga baru ada belum lama ini. Jadilah artikel ini baru tayang sekarang.

Nah, buat yang masih penasaran apa sih Bookstagram itu, bisa baca artikel "Bookstagram: Akun Foto Buku yang Instragrammable" dulu sebelum lanjut baca artikel yang satu ini!

Di artikel ini saya bakal membahas sesuatu yang lebih detail, soal aplikasi edit foto di android (aplikasi ini juga ada di iphone tapi berhubung bukan pengguna, bisa dicek langsung saja). Sekalian juga saya bakal kasih sedikit gambaran di balik proses edit foto bookstagram saya. :D

1. Snapseed

Aplikasi ini banyak direkomendasikan oleh orang-orang yang edit foto pakai HP. Habis memang gampang dipakainya sih. User interface-nya tergolong mudah dipahami.

Di Snapseed ini jadi kamu bisa atur brightness, contrast, saturation, dll sampai 'healing'. Selain itu, tentu ada banyak lagi yang bisa dilakukan sama Snapseed, seperti gabungin foto sampai ngasih efek macam-macam. Kelebihannya Snapseed itu, hasil editan foto nggak berubah jadi punya resolusi rendah. Jadi, hasil editannya masih bisa diedit-edit lagi tanpa khawatir bakal pecah.

Nah, kalau saya pribadi sih pakai Snapseed ini hanya untuk edit yang dasar. Semacam meng-enhance foto aslinya supaya lebih terang, lebih jernih, dan lebih cakep. Keuntungan paling keren pakai Snapseed itu format editan kita bisa disimpan untuk langsung diterapkan ke foto-foto lain. Jadi nggak perlu ribet edit satu-satu setiap foto deh.
Foto Asli
Sebagai contohnya ya, foto di atas ini foto asli. Diambil pakai kamera HP Xiaomi Redmi Pro3 dengan kualitas HD. Lalu, saya edit dengan Snapseed begini: (maaf ya lupa detailnya karena sudah disimpan biar bisa langsung dipakai di foto lain)
  • Menambah brightness
  • Menambah saturation
  • Menambah ambience
  • Mengatur highlight dan shadow
  • Mengatur RGB curve
Hasil edit Snapseed
Nah, hasil edit Snapseed ini kelihatan kan?

2. Afterlight

Afterlight ini saya pakai untuk menambah efek "dusty" pada foto. Efek ini membuat foto-foto saya lebih terkesan vintage, makanya saya suka banget sama Afterlight. Kalau saya sih selalu pakai yang nomor 12.

Bisa dilihat di bawah contoh hasil tambahan efek dari Afterlight. Oya, dulunya efek dusty ini sempat saya kasih di tahap terakhir edit, tapi efek dusty ini nggak hanya ngasih debu-debu saja, tapi juga semacam bikin foto jadi lebih pudar/terang/gelap dari yang diingkan jadi harus edit lagi karena bisa jadi beda sama feed lain hiks. Karena itu saya kasih dusty dulu sebelum tambah filter.

Sebenarnya pun ada banyak yang bisa dilakukan sama aplikasi satu ini. Mirip-miriplah sama yang bisa dilakukan Snapseed juga. Sayangnya, saya sudah terlalu akrab sama Snapseed (dan belum punya waktu juga buat menjelajah Afterlight) jadi tidak bisa cerita banyak.

Nah, ini hasil foto selepas dikasih efek dusty no 12 di Afterlight.
Tambah efek dusty Afterlight

3. VSCO

Ini aplikasi favorit banget buat pengguna instagram!

VSCO ini punya filter yang sumpah bikin foto biasa jadi berkali-kali lebih cakep! Sampai sekarang pun belum nemu yang ngalahin filter VSCO. Suka banget! Lebih lagi resolusinya tetap bagus dan foto tetap tajam selepas VSCO, jadi nggak bisa pindah lain hati deh.

VSCO itu tergolong punya interface yang susah (buat saya sih, nggak tahu kalau kamu). Nggak kayak Snapseed atau Afterlight. Pertama kali pakai tuh saya bingung gimana caranya masukin foto dan editnya. Sampai akhirnya saya uninstall. Nggak lama saya instal ulang dan akhirnya SAYA PAHAM!!

Saya sendiri masih setia sama filter VSCO yang gratis (meski sempat coba sesi trial yang berbayar). Filter-filter gratis ini nggak kalah cakep dan bisa bikin fotomu jadi terasa magical.

Nah, supaya hasil filter VSCO lebih cakep, jangan lupa buat edit brightness, highlight, tint, dll semuanya. Hasil filter VSCO dengan editan ini bisa membuat fotomu beda sama hasil filter VSCO kebanyakan. Saya pakai filter VSCO A4 (meski di instagram sekarang saya pakai ke A5 sih). Bisa dilihat perbandingan hasil dengan melakukan edit dan tidak.
Filter A4 VSCO dengan edit
Filter A4 VSCO tanpa edit
NB: Carilah di pinterest dengan keyword "VSCO filter" buat inspirasi edit filter dari VSCO. Ada aneka macam yang layak dicoba. :D

4. Preview

Pernah lihat akun IG yang begitu di buka feed-nya punya tema sama kan? Atau yang kelihatan tertata rapiiiii banget gitu.

Rahasianya itu ya, Preview ini. Preview ini cuma aplikasi yang menampilkan foto kita dalam grid yang mirip dengan tampilan instagram. Jadi, di Preview kita bisa lihat apakah foto kita akan punya tone yang sama dengan foto-foto yang lain. Sehingga kita bisa merencanakan akan seperti apa tampilan feed kita nantinya.

Kurang lebih begini nih tampilan Preview itu.
Aplikasi Preview
Nah, jadi bisa kelihatan apakah tone foto baru kurang gelap, kurang cerah, atau kurang-kurang apa yang lain sebelum di-post di IG.

Baca juga "Bookstagram: Memulai dari Dasar"

Nah, itulah empat aplikasi edit foto yang biasa saya pakai untuk foto-foto di @missfioree. Kalau ada pertanyaan atau apa, boleh banget tinggalkan komentar atau langsung hubungi saya di instagram. Semoga artikel ini berguna buatmu! :D


Pertanyaan yang sering saya dapat ketika mengunggah foto di instagram adalah: Fotonya bagus, Kak. Gimana caranya sih?

Hmm, sejujurnya foto cantik bookstagram (dan foto-foto cantik lainnya yang instagramable) itu punya rumus dasar fotografi yang sama. Hal-hal dasar dalam foto seperti teknik fotografi rule of thirds, sudut pengambilan gambar, bahkan tips dasar semisal bersihkan kamera dan latar foto mirip.

Nah, pada tulisan ini, saya akan berusaha menuliskan semua hal dasar yang harus dilakukan untuk mendapatkan foto buku yang instagrammable.

Baca juga: "Bookstagram: Akun Foto Buku yang Instagrammable"

Dasar-dasar ini bisa kamu praktikan baik untuk foto dengan ponsel (seperti tujuan saya membuat semua artikel di rubrik 'Bookstagram') atau pun jika kamu pakai kamera yang lebih canggih. Seperti yang saya bilang di awal, semua foto instagrammable itu punya tips dan trik yang mirip. Yup, tulisan ini adalah tips dan trik foto bookstagram.

Pentingnya Latar

Mari kita memulai dari hal yang membuat semua foto instagrammable itu memang instagrammable, latar alias background.

Baik kamu pecinta foto indoor maupun outdoor, latar adalah bagian (sangat) penting dalma menghasilkan foto yang bagus. Tanpa sebuah latar yang mumpuni, kamu tidak bisa menciptakan foto yang bisa menonjolkan 'sesuatu' (dalam kasus bookstagram, buku).

Nah, dalam artikel ini saya akan lebih fokus pada foto indoor. Pernah lihat kan akun instagram dengan foto-foto ciamik? Kamu jelas menyadari bahwa mereka tidak foto di sembarang tempat, kan?

Ya, foto-foto indoor berkualitas dihasilkan dengan latar foto yang mumpuni. Tentunya jika kamu pegiat foto (apalagi aktif menjelajah di instagram) kamu akrab dengan istilah alas foto. Namun, jangan salah, alas foto tidak harus sesuatu yang khusus lho.

Alas foto untuk menghasilkan foto indoor bisa berupa sesuatu yang sederhana seperti karton putih, seprei (yep, banyak yang pakai konsep seprai dan selimut lho), meja belajar, sampai alas buatan sendiri. Kamu tidak perlu khawatir jika tidak punya dana untuk membeli alas foto (yang harganya memang mahal hiks), karena ada banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk 'menciptakan' latar foto yang bagus.

Sebagai gambaran, mari membongkar rahasia 'dapur' saya sendiri. Saya pernah pakai jilbab, kliping koran, kain, sampai kertas bekas pembungkus paket sebagai alas foto. Foto ini yang saya maksud dengan kertas bekas pembungkus itu.


Jadi, jika kamu belum bisa membeli alas foto cakep (seperti saya), mari berpikir kreatif untuk menciptakan alas foto sendiri.

Objek, Properti, dan Komposisi

Selain latar yang mumpuni, objek dan properti adalah hal berikutnya yang harus dipahami.

Bagi saya pribadi, dua hal ini tidak bisa dipisahkan. Karena keduanya saling melengkapi untuk menciptakan foto yang bagus. Namun, perlu dipahami bahwa harus ada keseimbangan antara objek dan properti untuk hasil foto yang optimal.

Objek sendiri tentu saja adalah point of view (POV) foto kita alias 'hal utama' yang kamu ingin langsung dilihat oleh orang lain ketika melihat fotomu. Sedangkan properti adalah hal-hal yang mendukung keberadaan objek tersebut. Properti ini sendiri bisa hal-hal remeh seperti buku tulis, pulpen, baju (yap, baju), bunga, sampai barang-barang mahal yang memang ditujukan menjadi properti foto.

Yang menjadi masalah sebenarnya bukanlah seberapa banyak properti yang dimiliki atau seberapa keren objek foto kita. Yang menjadi masalah utama adalah komposisi foto.

Bagaimana cara membuat komposisi foto agar objek dan properti seimbang?

Pertanyaan ini, sejujurnya, susah juga untuk saya jawab. Pasalnya, saya sendiri pun masih terus belajar dan mencoba aneka rupa agar bisa menghasilkan komposisi foto yang seimbang. Saya akan coba tuliskan bagaimana cara saya mengatur objek dan properti dalam foto saya.

Sebelum memulai foto, saya menentukan dulu objek apa yang ingin saya tampilkan. Apakah buku, mug, pembatas buku, halaman tertentu dari buku, ataukah justru sesuatu yang lain. Setelah itu, saya meletakkan properti di sekitar objek tersebut dan mengamati apakah ada yang bisa ditambahkan, ada yang kurang, atau sesuatu yang lain. Hal ini dicoba dan diulang berkali-kali sehingga saya mulai mendapat 'sense' untuk foto-foto saya. Bisa dilihat perkembangan penataan saya dari foto di bawah ini.

Nah, jika kamu benar-benar newbie dalam mengambil foto benda, rumus dasar komposisi fotografi bisa diterapkan lho. Ada rule of thirds, komposisi tengah dan simetri, frame dalam frame, dan lain sebagainya. Ada banyak artikel dari orang-orang yang lebih ahli menuliskan tentang hal ini jika kamu butuh panduan. :)

Saya sendiri penganut rule of thirds. Komposisi ini cenderung paling mudah untuk diterapkan dan fleksibel dengan aneka rupa objek serta properti.

Selain itu, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk semakin lihai memainkan komposisi adalah pakai rumus ATM: amati, tiru, modifikasi. Saya sampai sekarang pun masih sering melakukannya. Jika menemukan foto dengan komposisi bagus, saya akan menyimpannya dan mencontohnya. Tentu saja dengan modifikasi sentuhan foto saya. :)

Selain itu, jika kamu memang terinspirasi oleh komposisi seseorang, ada baiknya juga untuk memberikan credit padanya.

Teknik Dasar Fotografi

Selepas komposisi, teknik fotografi adalah tahap terakhir dalam dasar memulai bookstagram. Jangan langsung membayangkan ini adalah hal yang sulit, karena kuncinya adalah banyak-banyak latihan. :)

Teknik dasar yang saya maksudkan di sini adalah tentang teknik pengambilan gambar dan sudut pengambilan gambar.

Apa sih itu?

Teknik pengambilan gambar intinya itu bagaimana kita mengambil foto objek, apakah dekat, sangat dekat, atau justru jauh. Sedang sudut pengambilan gambar ya tentu saja dari sudut mana foto objek mau kita bidik, bisa sejajar objek, dari bawah objek, atau dari atas. (Untuk penjelasan lebih lengkap, kamu bisa cari artikel di tempat lain ya, karena saya bukan ahli fotografi juga hehe.)

Kedua hal ini, menurut saya pribadi, sesuai dengan selera kita sendiri. Ada bookstagram yang mengombinasikan aneka rupa teknik dan sudut pengambilan gambar dalam feed-nya. Ada juga yang setia dengan satu tipe saja.

Saya sendiri jatuh cinta sama flatlay. (Oh, tapi saya juga bingung ini flatlay masuknya dalam sudut pengambilan mana dalam aturan sudut pengambilan gambar fotografi haha.) Dan flatlay termasuk teknik yang cukup mudah untuk diterapkan dalam mengambil foto bookstagram. Mayoritas foto saya pun didominasi oleh foto-foto flatlay.

Namun, menurut saya sendiri, ada baiknya kamu mencoba aneka rupa teknik dan sudut pengambilan agar menemukan hal yang "klik" dengan dirimu dan feed bookstagram yang ingin kamu capai. Bacalah artikel seputar fotografi, tirulah foto-foto banyak orang (jangan lupa di-credit ya :D), dan ambillah gambar berulang kali. Banyak-banyak mengambil gambar akan membuatmu tahu apa yang kamu inginkan.

Berteman dengan Cahaya Matahari

Nah, masuk ke trik terakhir untuk menciptakan foto yang instagrammable nih. Yup, ini trik, bukan teknik ataupun tahapan. Trik ini sangat mudah, tanpa biaya, dan begitu berlimpah. Namanya, cahaya matahari.

Suatu foto yang baik memiliki pencahayaan yang juga baik. Tanpa pencahayaan yang baik, sebuah foto, meskipun punya komposisi sangat bagus dan difoto dengan teknik yang tak kalah jago, bisa berakhir jelek. Walaupun juga kamera canggih bisa membuat foto yang diambil tanpa cahaya matahari tetap jernih dan tajam, hasilnya akan jauuuuuuuuuh lebih baik ketika diambil dengan cahaya matahari. Coba saja deh buktikan. :)

Nah, untuk mendapat cahaya matahari yang pas, carilah lokasi yang mendapat cahaya matahari dengan bagus. Jangan keburu sedih karena rumahmu sempit atau justru kamu tinggal dalam kamar indekos. Saya sendiri tinggal dalam kamar 3 x 3 saja, hehe.

Carilah jendela atau pintu yang pasti akan membuat cahaya matahari bisa sampai dengan baik. Lalu, ketika mau foto-foto, jangan ragu buat membuka pintu, goden jendela, atau bahkan jendela-jendela juga agar cahaya bisa semakin baik.

Selepas mednapatkan lokasi strategis dengan pencahayaan baik, trik selanjutnya adalah menemukan waktu yang pas. Kalau yang satu ini tentunya butuh waktu dan mencoba-coba. Saya sendiri sudah mengambil foto bookstagram selama sekitar satu tahun sebelum mendapatkan lokasi dan waktu yang sangaaaat pas untuk mendapatkan foto yang saya inginkan. :")

Meski ada aplikasi edit foto dan aneka filter, foto dengan pencahayaan bagus ini bakal menghasilkan foto yang jauuuuuh lebih bagus. Bisa bandingkan dua foto di bawah ini. Kedua foto saya ambil di lokasi yang sama tapi dalam waktu yang berbeda. Bisa dilihat pencahayaan pada foto kanan jauh lebih bagus karena saya ambil di "waktu yang pas" sedangkan foto kiri saya ambil ketika waktu itu sudah terlanjur berlalu, hiks.

    

Oh ya, bocoran nih ya, lokasi strategis saya adalah di atas dipan saya, di samping jendela, dengan kondisi jendela dan pintu terbuka. Sedangkan waktu pas saya adalah sekitar pukul 6.30 ketika matahari seakan sejajar jendela dan cahaya matahari jadi sangat melimpah. (Yep, jendela kamar saya menghadap timur jadi pagi adalah waktu yang paling baik buat saya foto-foto.)

Nah, sudah siap untuk memulai foto-foto bookstagram?


Halo!

Jadi, tulisan ini sudah direncanakan sejak lama. Terlebih buat yang mengikuti instagram saya, @missfioree. Sejak dulu saya memang ingin menuliskan tips tentang bookstagram. Akhirnya tulisan ini mulai terbit juga.

Ups, sebelumnya, mari kita mengenal bookstagram lebih dekat dulu. :)
Older Posts Home

Wardah


Penikmat es krim dan pecandu kebahagiaan. Senang menyusun buku berdasar warna, mengumpulkan kertas-kertas bekas, dan menatap langit-langit kamar. Sejak kecil bercita-cita menjadi penulis fantasi, yang sayangnya belum kesampaian.

Kenal Lebih Dekat

Anggota

Anggota
BBI 1502274

Kategori

  • Buku 96
  • Freebies 2
  • Giveaway 11
  • Journal 3
  • Tips 8

Copyright © 2016 missfioree. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018