missfioree
Powered by Blogger.
  • Home
  • Kerja Sama
  • Buku
  • Tips

Seumur hidupnya, Anna selalu sakit parah. Keluarganya merelakan segala hal untuk penyembuhannya. Nora, sang kakak, bahkan rela mengubur mimpi untuk berkulliah. Dia selalu hidup dalam belas kasihan orang lain. Dan Anna tidak pernah suka itu.

Katanya, Leo itu anak aneh yang suka berbuat onar. Keluarganya amburadul, begitu juga dengan sekolahnya. Tidak pernah ada yang menganggap Leo ada. Sampai dia bertemu dengan Anna.

Anna dan Leo sama-sama memendam ketakutan dan harapan akan masa depan. Bagi mereka, hidup terasa menyakitkan untuk dijalani. Namun, apakah kematian merupakan jawaban yang tepat?
"Karena, bunuh diri bukan kematian."
"Itu tetap kematian. Tapi, bukan bagian dari kehidupan. Kita hidup, lalu kematian datang. Bukan kita yang mendatangi kematian." (hlm. 130)
Sicklit dan Mental Illness

Penyap merupakan novel sicklit yang juga mengandung mental illness. Anna, si tokoh utama, adalah penderita kanker. Dia yakin kematiannya sudah diambang pintu. Sebentar lagi dia mati. Karena kondisi keluarganya, Anna jadi merasa derpresi.

Di sisi lain, Leo tidak pernah hidup dalam kasih sayang. Orang tuanya sering mengabaikannya dan lebih memilih untuk mabuk atau teler. Ayah tirinya bahkan berlaku abusive ketika Leo ada di rumah. Belum cuma itu, di sekolah Leo juga dirisak karena katanya Leo adalah pembuat onar. Tidak jarang Leo berpikir mati lebih baik.
Saat melihat mereka memakai narkoba, aku selalu bertanya-tanya, apakah mereka tidak bisa menghirupku saja agar aku bisa mendapat lebih banyak perhatian? (hlm. 161)
Kedua tema ini berpadu dengan apik lewat tokoh Anna dan Leo. Penyap sendiri ditulis dengan dua sudut pandangan orang pertama, Anna dan Leo. Dari sisi Anna, kita akan diajak pelan-pelan menyelami kehidupan dan penyakitnya. Bagaimana Anna merasa bosan akan hidupnya dan merasa tidak berdaya menghadapi keluarganya yang mengorbankan segalanya untuknya.

Dari sisi Leo, pembaca akan diajak merasakan keputusasaan Leo terhadap hidup. Lebih lagi ketika Leo harus mengadapi para perundungnya di sekolah dan diperlakukan seperti samsak oleh sang ayah. Leo yang tidak berdaya.
"Kenapa kamu tidak melawan?"
"Dunia tidak selalu membiarkan kita melawan." (hlm. 31)
Rasanya tuh kayak ikut menjadi mati rasa karena kehidupan seperti tidak pernah berpihak pada Anna dan Leo.

Lebih lagi ketika membaca catatan Nora. Jadi, di Penyap ini ada juga tulisan semacam buku diari Nora. Ini salah satu hal yang nggak pernah saya sangka (karena saya pikir hanya akan fokus pada Anna dan Leo seperti blurb) dalam perjalanan membaca Penyap. Ketika baca udah semacam bisa memperkirakan sih, cuma ya itu beneran bagian Nora itu yang paling mengiris diri saya. :(

Merenungi Kehidupan

Penyap bisa dibilang bukanlan novel yang aman dibaca ketika kamu merasa letih dan lelah dengan kehidupan. Apalagi jika kamu berada di posisi Anna, yang menderita sakit, atau Leo, yang tidak diacuhkan keluarga. Atau sekadar ketika kamu merasa kamu sendiri (TAPI KAMU GAK SENDIRI KOK! Colek @missfioree kalau kamu butuh teman ngobrol, oke?).

Membaca Penyap sendiri membutuhkan waktu bagi saya. Tulisan Sayyidatul Imamah ini bagus, bagus banget. Dan berhasil banget bikin saya ikut menyelami penderitaan dan keputusasaan para tokoh.
Aku tidak memiliki apa-apa selain perasaan ingin tidur di dalam air. (hlm. 84)
Saya butuh jeda sejenak ketika membaca Penyap agar tidak ikut merasa putus asa. Namun, di balik segala kesuraman, keputusasaan, kesedihan, dan perasaan ingin mati dalam Penyap, novel ini diakhiri dengan sangat layak. Saya suka bagaimana konflik demi konflik dihadirkan dan penutupan yang disuguhkan. Cakep banget!

Meski membuat pembaca ikut depresi, penulis berhasil menyajikan akhir yang memuaskan dan melegakan. Seperti Anna dan Leo, pelan-pelan kita diajak merenungi kehidupan yang selama ini kita jalani.
"Aku tidak bisa selamanya di sini bersamamu, maka kita harus melanjutkan hidup agar bisa terus memperpanjang hal yang sementara." (hlm. 275)
Gaya tulisannya juga sumpah bagus! Nggak kerasa kalau ini ditulis oleh seorang yang masih muda. Coba aja baca kutipan yang langsung bikin saya naksir sama gaya penulisannya ketika membaca Penyap.
Kereta itu berkarat, tua, dan kuno, tetapi jalannya cepat, sangat cepat. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Lajunya akan tetap seperti itu meskipun ada seseorag yang berbaring di bawahanya.  (hlm. 16)
Saya jadi penasaran dengan buku-buku lain dari penulis.

Penutup

Satu hal yang kurang dari Penyap, kisah cinta Anna dan Leo yang instalove. Terlebih dari sisi Anna sih, karena kurang dieksplorasi apa yang membuatnya tertarik pada Leo. Padahal cerita ditulis dari sudut mereka masing-masing, tapi saya tidak merasakan awal chemistry keduanya.

Selain itu juga latar tempat yang kurang jelas. Penyap ini seperti bukan berada di Indonesia, tapi citarasa sekolahnya Indonesia banget. Jadi sedikit bingung memahami latar tempatnya dalam imajinasi saya.

Terlepas dari itu, perkembangan hubungan mereka ditulis dengan sangat baik. Gaya tulisannya pun sangat memuaskan. Dan akhirnya bikin saya lega. (Yang kesisa cuma pengen memaki seluruh sekolah aja gegara liat Leo :'()

Penyap sangat saya rekomendasikan untukmu yang menikmati kisah young adult realistic yang mengangkat tema bunuh diri dan sicklit. Tulisannya cakep!

Buku ini saya dapatkan dari Storial.co secara gratis dengan ganti review jujur. Jika kamu ingin memiliki juga, cek post ini ya. Penyap akan diluncurkan pada 10 Oktober 2019!

Informasi Buku
Judul: Penyap
Penulis: Sayyidatul Imamah
Penerbit: Storial.co


Rooftop Buddies bisahnya tentang Rie dan Bree yang bertemu di atap gedung untuk bunuh diri. Rie ingin mengakhiri hidupnya karena dia mengidap kanker. Sedangkan Bree, dia menyimpan kisah kelam dari masa lalu.
"Bree, apa kalau bunuh diri bareng, kita bisa sama-sama terus?" (h. 30)
Pertemuan itu membawa mereka pada petualangan yang menyelami masa lalu masing-masing dan mengantarkan mereka pada pilihan: terus hidup atau memilih bunuh diri.

Review

Sejak melihat blurb, buku ini jelas punya premis yang menarik. Buku ini membawa tema bunuh diri, juga sicklit. Lebih lagi, premisnya dimulai dengan pertemuan dua orang yang ingin mengakhiri hidup di atap gedung. Wow! Saya sangat penasaran bagaimana kisah Rie dan Bree akan dibawa dalam novel ini.

Lengkap lagi dengan judulnya yang catchy: Rooftop Buddies. Judul ini membuat saya berpikir banyak hal dan berspekulasi aneka hal. Kovernya juga cakep. Pas banget menggambarkan premis yang dibawa.

Cerita sendiri ditulis dengan bahasa yang lugas. Kisah Rie dan Bree dituturkan dari sudut pandang orang pertama, dari sudut Rie. Jadi Rooftop Buddies ini bakal terasa personal. Rie banyak mengisahkan soal dirinya, dan bagaimana perasaannya. Ketika saya membaca bagian akhir buku, saya menemukan bahwa novel ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis sendiri ketika berada di posisi Rie. Pantas saja bagian ketika Rie begitu tersiksa dengan penyakitnya saya ikut merasakan hal itu.

Apalagi bagian di akhir ketika Rie berinteraksi dengan lebih banyak penderita kanker. Bagian itu bikin emosi saya terkuras. :(
Ini bukan tentang kematian. Ini tentang hidup. Jika kematian adalah batas akhir, seharusnya aku bisa menikmati kehidupan dengan sebaiknya. Ini juga bukan tentang orang-orang yang membenciku. Ini tentang orang-orang yang mencintaiku dan bagaimana aku membalas cinta mereka. (h. 251)
Sayangnya, ada terlalu banyak kematian beruntun yang saya temukan di sini. Kematian ini ada yang seharusnya bisa dihindari karena jalan cerita tetap bisa dibawa ke arah yang penulis inginkan. Mungkin penulis berusaha membuat Rooftop Buddies lebih dramatis, tapi bagi saya hal itu justru menjadi terlalu berlebihan dan membuat kisah Rie bersama Bree menjadi aneh.

Satu hal lagi yang saya sayangkan adalah penulis memilih membangun hubungan Rie dan Bree menjadi lebih dari 'buddies'. Gimana ya, meski bisa jadi tidak terhindarkan karena mereka berada dalam posisi yang serupa, tapi peningkatan hubungan mereka tidak terjalin dengan baik. Beberapa bagian juga dibuat lebih dramatis (seperti bagian Bree membuka bajunya) itu dan ... saya sejujurnya tidak menyukai perkembangan hubungan mereka ke arah sana.

Terus, peran keluarga Rie juga terasa ... kurang. Mungkin karena Rie sudah menyerah, lalu tahu-tahu bertemu Bree, dan dari sanalah novel ini ditulis jadi interaksi Rie dengan keluarganya tidak terlalu dieksplorasi ya. Cuma sayang banget karena kalau dari penceritaan Rie di novel ini keluarganya berusaha sebegitu besar untuknya.
"Kalau dia memang mencintaimu, seharuasnya kamu jadi alasan dia untuk tetap hidup." (h. 120)
Rooftop Buddies ini punya premis yang menarik, ditulis dengan apik, dan mengangkat hal yang mendalam. Lebih lagi buku ini berasal dari pengalaman pribadi penulis sendiri. Sayangnya, beberapa bagian yang saya sebutkan di atas membuat saya tidak bisa menyukai novel ini seutuhnya. Novel ini masih membuat saya terenyuh dan emosi seperti sicklit lain, cuma karena ada begitu banyak hal yang coba disampaikan penulis dalam buku ini membuat saya merasa kewalahan.

Jika saja novel ini dibuat dengan lebih perlahan, dan eksekusinya lebih diperdalam (apalagi hubungan Rie dengan keluarganya) dan juga karakter lain diberikan ruang untuk berkembang lebih besar, saya yakin buku ini bisa lebih baik lagi.

Oya, saya sejujurnya menyukai karakter adik Rie. Sayangnya, ya itu, interaksinya dengan Rie sangat-sangat-sangat terbatas.
"Membuatmu merasa menjadi orang yang teraniaya adalah tugas saudara, kan?" 179)
Namun, tentu saja saya menantikan kisah lain dari penulis. Saya penasaran kisah apa yang akan diangkat oleh penulis selepas novel ini.

Selamat membaca!

Informasi Buku
Judul: Rooftop Buddies
Penulis: Honey Dee
Penerbit: GPU
Tebal: 264 halaman
Genre: Young Adult, Sick-lit



Ketika Mia ingin mengirimkan surat cinta untuk Grey, suratnya justru tiba di tangan Liam, cowok yang dulu pernah terjebak dalam permainan seven minutes in heaven bersamanya. Parahnya, Liam mengaku suka pada Mia dan menerima cinta gadis itu. Mia pun terpaksa menerima Liam sebagai kekasihnya.

Lalu, ketika akhirnya mereka semakin dekat, bukan hanya kenyataan soal perasaan mereka yang terungkap. Namun juga rahasia-rahasia lain dalam hidup mereka.

Review

Seven Minutes in Heaven banyak berkisah soal Mia dan Liam. Bagaimana keduanya memulai hubungan dari pura-pura. Perkembangan hubungan mereka diiringi oleh kilas balik masa lalu Mia dan misteri di masa lalu yang perlahan tersingkap. Perkembangan hubungan mereka ini terasa manis dan nggak sedikit membuat saya tersenyum.

Selain Mia dan Liam, ada juga Anna dan Grey yang terlibat dalam kisah mereka. Anna dulu pernah menjadi sahabat Mia. Sedangkan Grey adalah pacar Anna. Dan salah satu konflik dalam hubungan Mia-Liam ini melibatkan Anna dan Grey.
"Aku tidak ingin siapa pun di antara kita menjadi semakin terluka karena harus terus berpura-pura." (halaman 149)
Di sela kisah Mia dan Liam, ada kisah keluarga Mia yang perlahan muncul. Sejak awal, kehidupan keluarga Mia ini sudah membuat pembaca bingung dan penasaran. Lebih lagi alur novel ini maju-mundur gitu, jadi nggak sedikit saya pun merasa bingung.

Akan tetapi, semakin banyak membaca, segala misteri itu akan semakin terungkap. Dan twist dalam novel ini semacam tidak tertebak oleh saya. Gila. Itu respon saya ketika sampai pada bagian paling penting dalam novel ini.

Lalu, pada akhirnya Mia harus menentukan pilihan selepas masa lalunya terungkap.
"Aku benar-benar tidak ingin melepaskannya, jika dia tidak memaksaku ... untuk melepas kebahagiaan terbesarku." (halaman 160)
Seven Minute in Heaven pada akhirnya bukan hanya menyoal kisah cinta dan keluarga, tapi juga mengangkat isu lain. Isu yang tidak pernah terpikir akan muncul. Salut sama penulis yang berhasil mengemas kisah ini dengan sangat baik dan rapi.

Gaya penulisannya pun bagus. Novel ini terasa seperti novel terjemahan dan latar tempatnya tidak sekadar tempelen. Keren!

Lebih lagi, karakter Liam pun bakal membuat pembaca kepincut. Dan karakter Mia sendiri berhasil menarik simpati pembaca. Tentunya buku ini akan lebih baik jika karakter mereka lebih dieksplorasi lagi. Termasuk juga karakter-karakter yang lain (meski akan terasa cukup sulit karena kisah ditulis dari sudut orang petama sih).

Penutup

Secara keseluruhan, Seven Minutes of Heaven merupakan novel yang memuaskan! Salah satu novel yang saya baca tanpa ekspektasi dan berhasil membuat saya gregetan. Apalagi akhir kisahnya itu asagdfdjlfdhasfklas.

Saya merekomendasikan novel ini bagi pencinta young adult yang menikmati kisah kontemporer yang tidak sekadar menyoal cinta.

Selamat membaca!

Informasi Buku
Judul: Seven Minutes in Heaven
Penulis: Yuanita Wong
Penerbit: BIP
Tebal: 232 halaman

Bagaimana jika suatu hari kamu menjadi Kate, seorang gadis piatu yang mendadak menemukan bahwa ayahnya masih hidup. Lebih lagi, sang ayah ternyata calon presiden Amerika. Bukan hanya harus berhadapan dengan keluarga yang tidak pernah dikenalnya, Kate juga harus berurusan dengan politik. Termasuk Andy Lawrence, putra presiden, saingan ayah Kate.

Keluarga 'Baru'

Novel ini cukup tebal, tapi ditulis dengan sangat baik dan berhasil membuat pembaca penasaran. Satu hal yang paling membuat penasaran tentu saja interaksi Kate dan keluarga Cooper. Bukan hanya mendadak punya ayah, Kate juga punya ibu tiri dan dua adik kembar. Parahnya lagi, bisa dibilang Kate lahir karna affair sang ayah 17 tahun silam.

The Wrong Side of Right ini ditulis dari sudut Kate, sehingga pembaca akan dengan mudah memahami perasaan gadis itu. Mulai dari keterkejutannya mendapati berita hingga kondisi batinnya saat bergabung di keluarga Cooper.

Pembaca akan diajak mengenali hubungan Kate dan Mark Cooper, sang ayah. Dari intraksi mereka terlihat jelas bahwa 17 tahun bukanlah waktu yang sedikit. Ada banyak juga adegan yang berhasil bikin saya sedih sekaligus sebal karena interaksi Kate dan ayahnya. Lebih lagi Kate merasa dirinya tidak diingkan dalam keluarga Cooper. Meski demikian, ketika akhirnya keduanya duduk dan benar-benar mencoba memahami satu sama lain, rasanya sangat lega.
"Ayah dan anak perempuan? Sulit sekali. Tapi ... Kau tidak akan mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki hubungan ini kalau kau tidak memberi dirimu sendiri kesempatan." (halaman. 394)
Ibu tiri Kate, Meg, pada awalnya pun bersikap dingin. Tidak heran jika mengingat bahwa Kate adalah anak hasil perselingkuhan suaminya. Namun, perlahan, semakin sering keduanya berinteraksi dan semakin dekat mereka, hubungan mereka menjadi salah satu hubungan terbaik di novel ini.

Favorit saya pribadi adalah hubungan Kate dengan kedua adik kembarnya, Grace dan Gabe. Pada awal, Grace langsung menyambut Kate dengan bahagia sedangkan Gabe tidak. Namun, semakin masuk ke dalam cerita, hubungan Kate dan kedua adiknya ini ikut naik-turun. Grace marah dan meruska baju Kate. Gabe mendadak menyelipkan gambar hasil karyanya untuk Kate. Adegan Kate dan adik-adiknya sering membuat saya terenyuh.

Dilihat dari sisi keluarga, The Wrong Side of Right ini berhasil menyajikan kisah keluarga yang menghancurkan hati sekaligus mengharukan. Cakep banget!
"Kau bagian dari kami. Dan kita salingmejagda satu sama lain. Selalu," (halaman 185)
Andy Lawrence dan Politik Amerika

Kisah cinta dalam novel kontemporer satu ini sendiri sangat sedikit. Jusru paling sedikit di bandingkan unsur keluarga dan politik yang ada. Namun, rasanya begitu memuaskan.

Andy Lawrence, anak presiden sekaligus saingat Kate. Keduanya mengenal lewat pesta dan meski Kate mencurigai pemuda itu, pada akhirnya mereka sering mengobrol, bertukar pesan, dan semacam mengirimkan kode rahasia.

Bagis aya pribadi, karakter Andy ini manis banget. Dia berusaha mencari perhatian Kate, mengajaknya menyaksikan konser, mengirmkan lelucon, dan tidak bersikap brengsek meski selama 17 tahun Kate adalah rakyat jelata. Saya menikmati adegan demi adegan (yang sering kali begitu singkat) ketika keduanya bertemu dan berakhir membuat senyum saya mengembang.

Meski demikian,s atu hal yang paling baru saya temui ketika membaca novel ini adalah tentang politik Amerika dan aneka hal di balik segala kampanye. Saya sudah tahu bahwa politik bukanlah daerah yang suci. Tidak ada hitam dan putih di sana. Dan Kate dipaksa masuk ke dunia itu.
"Tapi kampanyenya sendiri seperti lelucon, Seperti permainan yang dimainkan oleh para penguasa. Dan aku tak ingin menjadi pion dalam permainan ini." (halaman 173)
Ada banyak sekali adegan ketika dalam kampanye dan saya ingin menonjok juru kampanye ayah Kate.

Terakhir

The Wrong Side of Right menyajikan kisah keluarga yang kompleks. Lengkap dengan latar dunia politik yang tidak biasa, buku ini bisa saja terasa memusingkan di awal. Alurnya juga tergolong lambat sekali sehingga berpotensi membosankan. Namun, apabila kamu menikmati kisah keluarga dengan sentuhan romance yang manis dan tidak keberatan dengan tetek-bengek kampanye politik, buku ini bakal berakhir sangat memuaskan. Saya jamin.
"Mom pernah bilang kata-kata memiliki kekuatan. Kau hanya boleh menggunakan kata-kata paling jahat waktu kau benar-benar memerlukannya." (halaman 317)
Selamat membaca!

Informasi Buku
Judul: The Wrong Side of Right
Penulis Jenn Marie Thorne
Penerbit: POP
Tebal: v + 418 halaman

PS. Apabila kamu meninggalkan komentar untuk giveaway The Wrong Side of Right yang tengah berlangsung di instagram @missfioree, jangan lupa tinggalkan username-mu ya.

From Me to You merupakaan antologi novela yang ditulis oleh empat orang. Buku ini berkisah tentang cast Renaikan, sebuah jasa yang dikelola untuk membantu menyelesaikan permasalahan asmara.

Empat kisah para cast Renaikan ini disajikan dalam format berkesambungan. Meski ditulis oleh empat orang yang berbeda, From Me to You terasa seperti empat kisah berkelanjutan yang memiliki karakter utama berbeda. Keempat kisah ini dilambangkan dengan musim, yang sama dengan latar terjadinya ksiah tersebut.

Empat Kisah

1. Winter [Secret] - Yoana Dianika

From Me to You dibuka dengan kisah dari musim dingin. Cerita pertama ditulis oleh Yoana Dianika dan dengan karakter utama Kohei Nakamura alias Kou.

Seperti musim yang menjadi latar kisah, Winter [Secert] ini punya aura yang sama dinginnya. Tentang Kou yang menemani klien Renaikan bermaa Mayumi, sekaligus seorang gadis dari masa lalunya.

Kisah pertama ini tergolong sangat berfokus pada aspek romance, yang membahas soal cinta dan pengorbanan. Selain itu, sebagai kisah pembuka, Winter [Secret] berhasil menggambarkan karakter lain yang akan muncul di cerita-cerita berikutnya dengan baik, tanpa membuat karakter Kou dan Mayumi kehilangan status sebagai sentral kisah.

Walau demikian, saya nggak terlalu suka kisah pertama karena punya plot umum di banyak shoujo manga. Meski tetap kisah ini mengandung rahasia.

2. Spring [Spalsh] - Aiu Ahra

Berbeda dengan kisah pertama, kisah kedua tentang Sei Takahasi alias Ouji ini punya aura yang lebih ringan. Persis rasanya kertika mulai memasuki musim semi yang penuh bunga-bunga.

Cerita kedua ini termasuk cerita yang saya suka karena tidak berfokus pada kisah cinta semata. Klien Sei sendiri bahkan menghubungi Renaikan bukan karena punya masalah asmara melainkan karena masalah keluarga. Benar sekali, aspek keluarga inilah yang membuat saya menyukai Spring [Splash].
"Hal yang sederhana sekalipun bisa sangat sulit kalau kau tidak berani memulai." (h. 109)
Kisah kedua ini punya porsi romance yang cenderung lebih sedikit dan mengental semakin akhir cerita. Ceritanya sendiri manis dan terasa sekali aroma musim seminya.

3. Summer [Passsion] - Nel Falisha

Kisah ketiga adalah favorit saya. Tentang Ryou Kitazawa alias Raku yang harus berhadapan dengan Minori, teman semasa sekolahnya, karena Minori memakai jasa Renaikan. Pertemuan Ryou dengan Minori bukan hanya membuatnya kembali mengingat cinta pertamanya, tetapi juga membuat Ryou harus melangkah untuk sebenar-benar mengejar impiannya.
"Ryou, passion itu bukan dicari. Kau yang memntukan apa yang ingin kau lakukan, dan kau yang berusaha untuk mempertahankan keinginan itu." (h. 159)
Kisah ketiga merupakan favorit saya karena interaksi Ryou dengan Minori ini semacam kucing-anjing yang nggak akur tapi sebenarnya mereka itu saling peduli dengan satu sama lain. Selain itu,. tentunya juga karena persoalan impian yang dibawa sebagai akar cerita dalam Summer [Passion]. Meski akhir kisah yang dipilih oleh sang penulis ini membuat nyesek (dan entahlah saya ngerasa nggak perlu juga sampai gitu :(), kisahnya ditutup dengan sangat baik.

4. Fall [Mask] - Rettania

Lalu, buku ini ditutup oleh kisah Ren, cast Renaikan yang paling baru bergabung. Ren ini harus menemani Yui, gadis yang tergolong tdiak manis. Nah, Yui yang rada kaku ini bertemu dengan Ren yang cengengesan dan berakhirlah mereka dalam kisah ala romance comedy. Yah tentu saja tapi judul "mask" yang dipilih itu nggak sekadar tempelan.

Sebagai penutup kisah, kisah keduanya ini sangat pas karena disajikan bagai makanan penutup yang manis.

Mengalir dan Padu

Sebagai sebuah kisah yang ditulis oleh empat orang, From Me to You ini sangat mengalir. Sama sekali tidak terasa bahwa setiap bagian kisah ditulis oleh orang yang berbeda.

Selain itu meski punya karakter utama yang berbeda dan ada karakter-karakter utama cerita lain di kisah yang lain, semua karakter hadir konsisten. Mereka punya kepribadian berbeda dan punya latar belakanng kisah yang berbeda. Di kisah mana pun mereka muncul, mereka berhasil sebagai karakternya.

Saya jadi penasaran bagaimana proses kreatif keempat penulis ini membuat buku ini. Apakah masing-masing menuliskan kisah? Ataukah menyusun plot utama? Apakah saling mengintervensi untuk karakter utama masing-masing penulis?

Yang jelas, From Me to You jadi sebuah contoh kisah antologi berkesinambungan yang sangat padu. Salut!

Penutup

Nah, buku ini punya gaya menulis yang ringan. Keempat penulis punya gaya yang sedikut mirip satu sama lain dan semuanya menulis dengab lugas. Meski masing-masing kisah pendek, semuanya ditulis dengan sangat baik dan punya karakter yang nggak kalau baik penggarapannya.

Kisahnya pun gado-gado sehingga buku ini cocok banget dibaca sebagai bacaan ringan kalau butuh kisah yang nggak monoton.

Selamat membaca!

Informasi Buku
Judul: From Me to You
Penulis: R.A.Y.N.
Penerbit: Grasindo
Tebal: 250 halaman
Genre: Young Adult, Romance, Antologi


Kehidupan Alana sempurna. Dia diterima pelatihan pramugari di maskapai impiannya. Dia punya pacar yang baik hati. Dia didukung keluarga. Dan dia dikelilingi sahabat yang luar biasa.

Akan tetapi, semua berubah ketika Negara Api menyerang--maksudnya, dalam satu malam. Alana menjadi korban perampokan dan ... pemerkosaan.

Pelecehan Seksual dan Respon Masyarakat

Ini buku bergenre young adult kedua yang saya baca yang mengangkat tema pemerkosaan, pelecehan seksual. Buku pertama itu The Way I Used to Be karangan penulis luar. Keduanya punya tema yang sama, tapi punya perkembangan karakter utama yang berbeda. (Selain dua judul ini, ada buku young adult lain yang juga mengangkat tema pelecehan seksual, tapi dibawa dalam bungkus yang berbeda.)

Jika dalam The Way I Used to Be, pembaca akan menemukan bagaimana karakter utama hancur secara emosional. Dalam Mayday, Mayday ini saya justru tidak merasakan emosi dan keputusasaan Alana selepas malam itu. Memang sih ada penggambaran kesedihan Alana, tetapi rasanya itu tidak cukup. Pasalnya Mayday, Mayday ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama. Seharusnya POV ini bisa membuat pembaca ikut merasakan jadi Alana. Sayangnya "aku" milik Alana ini seolah berjarak dari yang (mungkin) seharusnya dirasakan olehanya. Tidak seperti ketika membaca The Way I Used to Be, saya merasa ngilu karena Eden.

Mayday, Mayday ini semacam lebih menitikberatkan pada bagian di luar emosi Alana. Apa yang dia perbuat, bagaimana cara dia berusaha tetap memperjuangkan impiannya, pilihan yang diambilnya, respon orang-orang di sekitarnya. Hal-hal seperti itu. Apalagi sejak Alana tahu bahwa dia hamil.

Lalu, satu lagi yang lebih terasa dalam Mayday, Mayday ini adalah respon masyarakat terhadap Alana. Dalam novel ini, pembaca akan mendapatkan kenyataan pahit bahwa banyak yang menganggap korban pelecehan seksual itu sebenarnya tidak dilecehkan. Entah bilang bahwa kedua pihak sama-sama menikmati, si korban pasti pakai pakaian nggak pantas, sampai korban yang justru menggoda. ASSJKFGSKLHALKSJALDHL pengen marah banget dengernya !! >(

Mayday, Mayday ini memanglah kisah fiksi, tapi respon orang-orang di sekitar Alana ini tuh benar-benar ada dalam kehidupan nyata. Saya nggak habis pikir kenapa ada manusia yang nggak punya simpati apalagi empati macam itu.

Selain respon mengerikan begitu, Alana juga merasakan respon orang sekitar yang tidak percaya dengan kejadian itu, termasuk orang tuanya. Ketika membaca bagian itu tuh saya sedih banget karena ucapan ayah Alana itu sumpah bikin sakit. T_T

Ayah Alana bisa jadi tidak berniat melukai putrinya, tapi saya cukup yakin, ayah Alana ini bukanlah sekadar gambaran dalam kisah fiksi. Di Indonesia, status perawan itu masih dijadikan sebagai sesuatu yang sakral. Perempuan yang tidak perawan (meski dia jelas-jelas diperkosa) seakan sudah tidak berharga. YHA PADAHAL SIAPA SIH YANG MAU DIPERKOSA!?!

Momen "Mayday"

Sekarang marilah beralih pada hal lain karena saya ikutan emosi. :(

Jadi, sesuai judulnya, penulis ini mengambil tema 'momen mayday'  sebagai pondasi cerita. Idenya menarik, cuma terasa kurang cocok dengan kovernya. Melihat kovernya yang menggambarkan pramugari, pembaca akan membayangkan kisah Alana menjadi pramugari lebih banyak. Nyatanya tidak. Meski tentu saja impian Alana ini menjadi penggerak cerita juga.

Ketika membaca blurb, yang dialami justru beda lagi. Pembaca akan membayangkan kisah langsung dibuka dengan kejadian malam itu. Sayangnya, pembaca harus menunggu hingga halaman 55 sebelum konflik mulai bergulir. Saya sendiri merasa pembukaannya terlalu bertele-tele (karena sejak baca blurb yang ada dipikiran saya hanya "Gimana nasib Alana selanjutnya?").

Seiring cerita, penulis berusaha mengisahkan bahwa setiap pilihan selalu ada konsekuensi. Karakter Alana berhasil berkembang dalam menghadapi "momen mayday" dalam hidupnya. Karakter-karakter pendukung di sekitar Alana pun sama juga. Perkembangan ini akan jauh lebih baik jika saya merasakan emosi Alana lebih dalam.

Mayday, Mayday sendiri ditulis dengan baik. Kisahnya mengalir, meski suara "aku" milik Alana terkadang terkesan dingin dan tidak berperasaan. Kisah Alana juga ... cukup komprehensif buat orang yang mungkin awam soal peristiwa selepas pelecehan seksual. Saya jadi tahu lebih banyak soal aborsi dan adopsi anak. Cuma, sekali lagi, akan lebih baik jika emosi-keputusasaan-kesedihan Alana lebih diperdalam.

Terlepas dari itu semua, Mayday, Mayday ini berhasil menyampaikan pesan yang ingin di bawa penulis: momen mayday, semenghancurkan apa pun, selama kamu tidak putus asa atau sendirian, bukanlah akhir.
"Ketika kamu pengin banget memperjuangkan sesuatu yang kamu mau, satu kali kegagalan nggak akan bikin kamu berpaling dari cita-cita itu." (h. 38)
Penutup

Secara keseluruhan Mayday, Mayday adalah novel yang memuaskan. Tema yang diangkatnya nggak biasa untuk genre young adult. Penulis cukup berhasil mengisahkan cerita Alana dengan baik dan mengalir. Dan yang paling penting, penulis berhasil menyampaikan pesannya.

Sebagai penutup, sebuah kutipan yang (semoga bisa membangkitkan semangat siapa pun yang tengah mengalami momen mayday dalam pencapaian impian (meski semoga tidak semenghancurkan hidup seperti Alana).
"Kalau kita udah nggak punya alasan untuk menjalani hidup! Impian kitalah yang bisa menuntun kita." (h. 296)
Semoga kita tidak pernah berhenti menyerah! Selamat membaca!

Informasi Buku
Judul: Mayday, Mayday
Penulis: Laili Muttamimah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 344 halaman
Genre: Young Adult

Older Posts Home

Wardah


Penikmat es krim dan pecandu kebahagiaan. Senang menyusun buku berdasar warna, mengumpulkan kertas-kertas bekas, dan menatap langit-langit kamar. Sejak kecil bercita-cita menjadi penulis fantasi, yang sayangnya belum kesampaian.

Kenal Lebih Dekat

Anggota

Anggota
BBI 1502274

Kategori

  • Buku 96
  • Freebies 2
  • Giveaway 11
  • Journal 3
  • Tips 8

Copyright © 2016 missfioree. Created by OddThemes & Free Wordpress Themes 2018